Aku benci adikku

Dear Diary,

Aku benci salah satu adikku. Bukan aku saja yang membencinya, adik-adikku yang lain juga membencinya. Gimana tidak, ia selalu mengadukan apa yang kami lakukan terhadap ayah. Dasar tukang ngadu!!!! Tidak hanya itu saja, ayah pun lebih mengasihinya dibanding kami. Coba bayangkan…ayah membuatkan sebuah jubah yang indah untuknya, sedangkan kami….boro-boro dibuatkan, berencana untuk membuatkannya saja tidak.

Kebencian kami kepadanya semakin memuncak ketika ia menceritakan mimpinya. Mimpi aja dibangga-banggain. Masa kami dibilang akan menyembah dia, mangnya siapa dia. Aku ini anak paling tua dikeluarga ini, apa karena dia anak kesayangan ayah, makanya dia ga anggap aku?? Bukan itu aja, dia, si Yusuf ini, menceritakan mimpinya dua kali….bayangin DUA KALI!!!! Gimana gak super duper BeTe kami.

Suatu waktu ketika kami lagi asik ngumpul sambil menggembalakan kambing domba, salah satu adikku mencetuskan ide untuk membunuh si tukang mimpi itu. Walaupun aku benci dan tidak menyukai Yusuf, tapi bagaimana mungkin aku membunuh adikku itu, walaupun beda ibu, dia tetap adikku. Aku meminta kepada mereka untuk tidak membunuhnya, tetapi membuangnya ke dalam sumur yang kering dekat situ. Aku berencana untuk nanti menolongnya dan membawa kembali kepada ayah.

Setelah membuangnya, aku pergi sejenak meninggalkan mereka. Betapa kagetnya aku ketika aku kembali ke sumur aku tidak menemukan dia. Antara marah dan kecewa, aku mengoyakkan jubahku, dan menyatakan kekecewaanku kepada adik-adikku yang lain. GImana aku bertemu dengan ayah. Akhirnya kami menyembelih salah satu ternak kami, dan membasahi jubah Yusuf yang kami ambil sebelum membuang dia ke dalam sumur dengan darah ternak itu.

Ayah sangat terpukul ketika kami membawa jubah Yusuf yang sudah penuh darah itu kepadanya. Ia begitu berduka, tidak ada seorang pun dari kami yang mampu menghiburnya. Hatiku pun terluka.

Sejak saat itu, aku dan adik-adikku yang lain, kecuali adikku yang paling kecil, hidup di dalam kebohongan. Aku yakin Yusuf masih hidup, tetapi ntahlah dimana dia berada. Sampai satu waktu, kami kembali bertemu dengan dia. Besok-besok aku cerita ya, bagaimana aku bisa kembali bertemu dengannya.